- Home »
- GUNUNG PEGAT
WORD ORVILLE
On Selasa, 12 Februari 2013
SEJARAH GUNUNG PEGAT
Postingan ini hanya sebagai ajang berlatih ujian akhir. Sedikit punya cerita, salah satu bentuk ujian akhir semester saya berupa paper mengenai fenomena bahasa di daerah asal. Nah, karena saya berasal dari GEMBONGAN, BLITAR, sebuah desa kecil yang notabene penduduknya terlalu banyak yang renta karena kebanyakan para pemudanya justru bersenang-senang di luar kota (termasuk saya
), saya akan sedikit saja mengulas tentang sebuah sejarah yang alhamdulillah sampai sekarang masih dipertahankan. Namun yang saya bingungkan, sepertinya paper saya nanti akan sedikit melenceng dari tujuan semula, yaitu bentu-bentuk fenomena bahasa di daerah asal. Saya sedikit khawatir, jangan-jangan isi paper saya nanti malah mengenai seluk beluk dan tetek bengek pegat bukan istilah-istilah yang ada dalam sejarah gunung pegat.
Dahulu kala ada seorang tokoh pewayangan yaitu bernama semar,gareng,petruk.
Mereka disuruh Ramanya untuk memikul batu yang bertempat di gunung.Tiba-tiba belum sampai tempat yang dituju pikulan tersebut patah dan pada akhirnya ketepatan suara jagopun terdengar menandakan hari sudah pagi.Merekapun panik karena pikulan tersebut patah menjadi dua.mengapa mereka panik..????
Karena sebelum mereka pergi disuruh ramanya memikul batu,Ramanya sempet berpesan “jangan sampai hari berganti pagi malam itu juga harus selesai” karena mereka bertiga dapat hukuman dari ramanya tersebut,jika hukuman mereka tidak sampai selesai pada malam itu juga akan terjadi hal yang sangat dahyat dan bisa dibilang aneh.
Akhirnya hal itu pun kejadian ,mereka tidak bisa menyelesaikan tugasnya pada malam itu juga,sehingga hal yang dahyat yang tidak mereka sangka-sangka terjadi didepan mata.Gunung yang mereka lewati tiba-tiba terbelah atau pecah menjadi dua bagian yang memisahkan antara mereka bertiga,dan pada akhirnya mereka bersumpah apabila ada seorang pengantin baru yang melewati jalan belahan ini,kehidupan rumah tangganya mereka tidak lama lagi akan pecah ataupun pegat (pegatan istilah jawanya sih).Sumpah semar,gareng.petruk pun menjadi kenyataan hingga sekarang ini. Setiap orang / pengatin baru lewat situ bakalan terjadi pegat atau putus rumah tangganya,tetapi beda dan terkecuali penduduk tetap warga situ.
Dan pada akhirnya gunung tersebut dinamakan GUNUNG PEGAT, gunung yang terpisah. Peristiwa zaman dulu yang mengangkat sejarah gunung tersebut.
Nah,postingan kali ini cukup itu yang dapat saya ulas sejarahnya,sumber ini saya cari tau didaerah asal gunung ini berdiri yaitu didesa Srengat,begelenan,jawa timur. JURPEL(juru pemelihara peninggalan sejarah) yaitu bapak MUNAJEP,beliau lahir pada tahun 1945 hingga sekarang mungkin kira-kira usia beliah ^68^ tahunan. Berkat beliau lah saya bisa berbagi informasi menggali sejarah tentang GUNUNG PEGAT ini.
“MARILAH KITA MENJADI GENERASI PEMUDA, PENERUS MASA DEPAN YANG DAPAT MENGHARGAI JASA PARA PAHLAWAN SERTA MENGHARGAI PENINGGALAN SEJARAH NENEK MOYANG PADA ZAMAN PURBAKALA”.
Siapa lagi kalau bukan kita semua yang dapat mengangkat sejarah dimasa ini,masa yang penuh dengan berbagi kemewahan belaka,manusia sudah dibuta kan oleh kemewahan harta,jadi jadilah pemuda yang bisa dibanggakan oleh bangsa dan negara “jangan sampai peninggalan sejarah tergusur / punah oleh zaman modern “
TETAP JAGA DAN RAWATLAH...
mencoba menjadi pemuda yang bertanggung jawab.
Penulis
Meilina mandasari
